|
Home Perpendek Umur Anak-anak Kanker Polusi Udara

BFC Group

Lobster Air Tawar

Landak Mini

Kelinci Mini

Masker Anti Polusi
| |
Kemacetan Perpendek Usia Manusia
Jumat, 11 September 2009
Pencemaran Udara/Kerugian Akibat Kemacetan Mencapai 28 Triliun
Rupiah
Kemacetan yang sangat memprihatinkan
di Jakarta menyebabkan harapan hidup berkurang.
Penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), pneumonia, asma, dan bronkitis
menjadi penyakit yang bakal merenggut nyawa warga Jakarta lebih cepat akibat
kemacetan.
JAKARTA , Polusi udara akibat kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta memperpendek
harapan hidup masyarakat.
Bila seseorang terpapar udara kotor terus menerus selama 24 jam dalam kurun
waktu enam bulan (4.320 jam), usianya akan berkurang sembilan bulan.
Demikian diungkapkan pengamat lingkungan dari Fakultas Teknik Universitas
Indonesia, Firdaus Ali, di Jakarta, Kamis (10/9).
“Rata-rata orang di Jakarta berada di jalanan menuju dan pulang dari tempat
kerja sekitar empat jam dalam sehari.
Dalam kurun waktu 1.080 hari (tiga tahun) di jalanan, orang tersebut akan
berkurang umur sembilan bulan.”
Dalam setahun, sambungnya, warga Jakarta yang terkena penyakit karena polusi
udara menghabiskan dana 4,9 juta rupiah per tahun untuk berobat hingga sembuh.
Pada 2008, biaya berobat akibat polusi udara mencapai 5,8 triliun rupiah. Data
itu merupakan perkiraan dari hasil penelitian dari Bank Dunia, Bappenas, dan
Universitas Indonesia pada 2004.
Menurut Firdaus, data itu diambil dari penduduk Jakarta yang tingkat polusinya
tinggi seperti di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat.
Warga Jakarta di daerah ini terpapar udara kotor yang mengandung karbon dioksida,
(CO2), timbal, nitrogen teroksida (N2O3), dan nitrogen pentoksida (N2O5).
“Di sisi lain, ruang terbuka hijau (RTH) di daerah itu minim sehingga partikel
tidak diserap pepohonan dan sedikit oksigen yang dihasilkan.”
Namun demikian, jelasnya, untuk menangkal penyakit pernapasan ini bisa dilakukan
dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengonsumsi suplemen mengandung
mineral dan vitamin.
Tetapi hanya orang kaya yang bisa selalu mengonsumsi suplemen ini.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Faisal Yunus, mengatakan
warga Jakarta yang akan banyak menderita penyakit akibat polusi udara (infeksi
saluran pernapasan atas, pneumonia, asma, dan bronkitis) adalah warga Jakarta
Pusat, sebagian Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur.
“Jakarta Pusat karena daerah ini paling ramai kendaraan dan tidak pernah
berhenti kendaraan lewat situ dari arah mana saja,” tuturnya.
Sedangkan Jakarta Timur, ia menunjuk Pulogadung karena banyak industri.
Di Jakarta Barat, Faisal menunjuk Grogol yang rawan karena padat arus kendaraan.
Di Jakarta Utara, Tanjung Priuk karena banyak kendaraan kontainer lewat dan
daerahnya minim pepohonan.
Dosen Arsitektur Lanskap Universitas Trisakti Iwan Ismaun mengatakan pada 2015
emisi gas CO2 di Jakarta mencapai 38.322,46 ton per hari.
Menurutnya, porsi polusi dari sektor transportasi 92 persen. Disusul sektor
industri sebanyak lima persen, permukiman dua persen, dan sampah satu persen.
“Untuk menyerap polusi itu diperlukan ruang terbuka hijau sebesar 32,04 persen
dari total luas kota Jakarta, 65 ribu hektare. Luas RTH Jakarta saat ini hanya
6.480 hektare.
Untuk menambah menjadi 32,04 persen dari total luas Jakarta sebesar 65.000
hektare, diperlukan 14.356 hektare,” jelasnya.
Iwan mengatakan setiap pohon besar dengan luas hijau daun 150 m2 dapat menyerap
CO2 sebanyak 2,3 kilogram dan menghasilkan O2 sebanyak 1,70 kg per jam.
Saat ini, jumlah kendaraan roda empat yang melintas di jalan-jalan di Jakarta
mencapai lima juta buah.
Dengan data tingkat pertumbuhan transportasi dan emisi CO2 seperti sekarang ini,
Jakarta membutuhkan luas RTH 20.836 hektar.
28 Triliun Rupiah
Di sisi lain, Firdaus mengungkapkan, kemacetan yang sangat memprihatinkan di
Jakarta diperkirakan mengakibatkan kerugian sekitar 28 triliun rupiah per tahun.
Total kerugian itu terbagi dalam beberapa sektor, antara lain kerugian akibat
bahan bakar, kerugian waktu produktif warga, kerugian pemilik angkutan umum, dan
kerugian kesehatan.
“Jumlah kerugian yang paling besar adalah sektor bahan bakar yang menghabiskan
sampai 10,7 triliun rupiah per tahun. Kerugian bahan bakar dihitung dari
banyaknya BBM yang terbuang karena kemacetan,” paparnya.
Selain kerugian akibat BBM, kerugian waktu produktif mencapai 9,7 triliun rupiah,
kerugian kesehatan menyumbang 5,8 triliun rupiah, dan kerugian pemilik angkutan
umum mencapai 1,9 triliun rupiah karena berkurangnya jumlah rit yang ditempuh
angkutan umum.
rud/M-3
Sumber :
http://www.koran-jakarta.com
|